Mungkin hampir semua orang merayakan tahun baru 2010 ini dengan bersenang-senang bersama keluarga, sahabat, teman. Mungkin ada beberapa dari mereka yang mengadakan pengevaluasian diri atas tahun yang telah dilalui. Bermacam- macam cara bisa dilakukan untuk merayakan tahun baru ini. Bisa dengan hura-hura atau menjadikannya sebuah penghayatan. Banyak pilihan yang bisa dipilih. Tapi freewill seseorang akan memilih sesuai dengan kebutuhannya yang bisa memberikan sebuah kepuasan dan manfaat. Tapi apakah semua cara itu layak untuk dilakukan?
Apa yang terjadi bila kita merayakannya dengan hura-hura? Pertama, apa yang kita lakukan dengan hura-hura? Berbelanja? Ngobrol dengan teman, keluarga, sahabat? Memainkan kembang api? Makan-makan? Jika dilihat satu per satu, apakah hal itu menyenangkan? Jujur, kalau menurutku itu adalah hal yang begitu menyenangkan, karena aku memang jarang melakukan hal itu, bahkan hampir tidak pernah, kecuali bersama keluargaku, karena mereka begitu overprotektif terhadapku. Sehingga aku tidak bisa melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh teman- temanku yang lain. Apalagi kalau bersama keluarga itu juga tidak mendapatkan kebahagiaan yang besar, malah hanya mendapatkan capek karena hanya menemani mereka yang juga memiliki sifat senioritas tinggi. Mau bagaimana lagi, aku menjadi anak yang benar – benar tidak pernah jalan – jalan sama teman – temanku. Bahkan keluar untuk mengerjakan tugas di malam hari aja tidak boleh. Hiyaaaa… kok malah jadi curhat.
Lanjut ke topik permasalahan.
Tapi apakan dengan hura – hura kita bisa mendapatkan manfaat yang besar? Jawabannya adalah tidak. Malah menurutku dengan berhura – hura, kita memperbesar hedonisme kita yang malah mengarah ke sebuah kegagalan, kita menjadi pemalas, dan tidak mau bekerja keras. Kita juga mengahambur – hamburkan uang untuk itu. Hal itu bisa juga menimbulkan rasa “ingin” di hati orang – orang yang tidak mampu. Kalau ditarik garis merah, maka, orang yang tidak mampu itu bisa saja melakukan sebuah tindak kriminal karena begitu inginnya merayakan tahun baru secara besa – besaran. Bahkan bisa mengakibatkan beragam dampak – dampak lainnya, misalnya kecelakaan.
Sehingga apa makna tahun baru yang sebenarnya?
Tahun baru adalah tahun dimana kita memperbarui diri, pribadi, pikiran, sehingga menjadi lebih baik dari tahun sebelumya. Menurtku apalah arti perayaan tahun baru tanpa adanya perubahan bagi diri sendiri dan tanpa keinginan untuk mengubah lingkungan kita menjadi baik juga. Jadi buat apa kita marayakan tahu baru secara besar – besaran tanpa dua hal itu tadi?
Jadi bagaimana cara menyikapi perayaan tahun baru?
Menurutku, alangkah baiknya kalau kita merayakan tahun baru dengan merenung, menyelami isi diri, mengevaluasi diri, merencanakan sesuatu yang menjadi target kita di tahun – tahun berikutnya. Tapi bukan hanya untuk hari itu saja, kita juga menanamkan kekonsistenan dalam hati dan pikiran serta menghayatinya agar bisa menjalankan target, misi, dan rencana untuk tahun depan. Dengan begitu bukan hanya manfaat yang kita dapat tetapi juga kebahagiaan dari sisi karena puas bisa menjalankan rencana dengan baik.
“orang – orang yang sukses adalah orang – orang yang mengadakan perubahan.”
Timbul pertanyaan, bagaimana merenung yang benar?
Merenung itu bukan hanya mengulang kembali dalam otak, dengan mengingat – ngingat kejadian masa lalu. Akan tetapi, kita merenung dengan mencari – cari sumber suatu kegagalan kita, dan keberhasilan kita. Sehingga kita bisa memperbaiki diri agar tidak mengulangi sumber kegagalan itu, dan memaksimalkan sumber keberhasilan itu agar bisa berhasil lagi di tahun berikutnya. Menyelesaikan dengan menangis? Menangislah bila perlu untuk menambah penghayatan, tapi tujuan utama sebuah renungan bukanlah menangis, melainkan sebuah perubahan baru. Buat apa menangis sampai air mata habis tetapi tidak ada perubahan yang ditimbulkan? PERCUMA. Namun bagiku mengangis adalah sebuah sasaran dimana itu artinya kita sudah bisa menghayati diri kita, memahami, dan mengenal diri kita jauh lebih dalam lagi. Seperti bercermin ke belakang, untuk menghadapi cermin – cermin di depan yang sudah menanti kedatangan kita. Sampai tiba saatnya pada cermin yang terakhir, dimana ada kebahagiaan atau kesengsaraan yang abadi telah menanti. Jadi rencanakan hidupmu sampai pada cermin yang terakhir, karena waktu tidak dapat diulang kembali. Buat apa menyia – nyiakan hidup ini? Manage waktu dengan maksimal dan efisien..
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian, kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS . Al ‘Ashr : 1-3)

zalipunya said,
January 2, 2010 @ 9:03 am
maaf baru,latihan nulis lagi, selama sekian lama aku tidak berkecimpung dr dunia blog..
jadi,tulisanku masih umum-umum saja.
Dani said,
January 3, 2010 @ 3:36 pm
Za… bagus lho tampilan blognya…. Ijo kayak daun kelapa, apak suka.
Diperbanyak ya isinya… jgn lupa kunjungi blog bapak…. ^^/
zalipunya said,
January 5, 2010 @ 10:56 am
iya pak,
ak jg sk…
ijo…ijo..ijo…
i lup u pull..
hahaha…
seger2 gmn gt..
okelah kalo bgitu,
tp ak jrg ol d komp pak,
hiks jd g bs ngedit2 dgn leluasa.
ayou said,
January 4, 2010 @ 4:02 pm
iya , setuju..
dan yang paling penting setelah berusaha adalah berdoa..
Bercermin kebelakang tanpa adanya perubahan, malah menangis itu PERCUMA, karena disetiap saat itu pula, kita akan kehilangan semangat untuk maju dan kehabisan semangat menuju perubahan yang baik..sia-sia…
Allah -lah yang maha segalanya, berdoa pada-Nya jauh lebih baik..
zalipunya said,
January 4, 2010 @ 4:47 pm
haha,
ayug,
pasti yug,
tak akan melupakanNya,
karna Dia tau kita sudah berusaha..